Fundamentalis, Radikal, Moderat

Fundamentalis

Istilah “fundamentalis” mulai kerap jadi adjektiva untuk gerakan keagamaan sejak ia meramaikan wacana di kalangan kaum Kristen Protestan di Amerika pada kisaran akhir abad 19 dan awal abad 20. Salah satu diskursus keagamaan yang semarak di era ini, yang terjadi bukan hanya dalam dunia Kristen melainkan juga Islam dan agama-agama lain, ialah tentang hubungan agama dan sains modern.

Di antara kritik tajam yang mengarah ke umat Kristiani di Amerika waktu itu, yang berdasar pada temuan-temuan dari teori evolusi dan kajian kritis sejarah, ialah bahwa kisah-kisah di Bibel bukan saja mengandung informasi yang tidak akurat, melainkan juga bukan merupakan fakta historis, terlebih untuk kisah-kisah yang mengandung keajaiban/kemukjizatan.

Sebagian kalangan Kristen Protestan berusaha menangkis kritik itu. Mereka membangun argumen untuk mempertahankan doktrin-doktrin Kristen yang mereka percayai: tentang ketidakmungkinan Bibel untuk salah (biblical inerrancy); bahwa kisah-kisah di Bibel adalah benar terjadi secara literal; bahwa Yesus benar bangkit secara fisik; dlsb. Daftar dokrtin-doktrin ini kemudian disebut dengan “the fundamentals”. Dari sinilah istilah “fundamentalis” mulai memiliki makna spesifik keagamaan.

Persoalannya ialah diskursus dari Amerika itu kemudian mendunia. Istilah fundamentalis(me) lalu tersemat ke satu gerakan keagamaan di agama-agama lain, tentu termasuk Islam, dengan makna yang telah disederhanakan sebagai sama belaka dengan “literalistik” atau “skripturalistik”. Ia diterjemahkan ke bahasa Arab dengan kata “ushuliy” (fundamentalism: “ushuliyyah”), yang makna literalnya adalah “yang berhubungan dengan dasar/pondasi”.

Banyak orang memakai istilah “fundamentalis” dengan makna yang sudah disinonimkan dengan “literalistik” itu, tanpa menyadari latar diskursif kemunculannya. Padahal jika orang-orang Islam hari ini disasar dengan kritik yang sama dengan yang dilancarkan pada Kristen Protestan Amerika di awal abad 20 itu, saya duga keras respons dari kebanyakan mereka, termasuk juga yang mendaku tidak fundamentalis, tak akan jauh beda; akan muncul ajakan untuk kembali ke dasar-dasar agama; kembali ke doktrin-doktrin yang telah dirumuskan dan dibakukan oleh para pendahulu (salaf); dan seterusnya. (Kalau tak percaya, bisa Anda coba dengan menanyakan kepada orang Islam hari ini: apakah Anda percaya bahwa kisah-kisah ajaib yang diceritakan dalam al-Quran atau hadis-hadis Nabi benar-benar faktual terjadi?)

Saya pribadi cenderung tak suka dengan istilah “Islam fundamentalis”, di samping soal sejarah yang meliputi istilah ini, yang bermula dari diskursus di dunia Kristen, juga soal cakupan makna dari kata “fundamentalis” itu sendiri, yakni yang kepercayaan/praktik keagamaannya memiliki dasar, baik dasar skriptural, rasional, maupun dasar yang lain; yang jelas berdasar. Mengaku diri sebagai Muslim yang tak fundamentalis itu terasa mengimplikasikan makna bahwa dirinya tidak memiliki dasar/pondasi dalam kepercayaan/praktik keagamaannya.

_______

Radikal

Dalam konteks politik, istilah “radikal” mengandung makna yang tidak berdiri sendiri. Ia tidak “sui generis”. Maknanya bersifat relasional: radikal adalah radikal terhadap status quo tertentu yang ingin ditumbangkannya. Nilai baik/buruk dari yang radikal itu dengan demikian juga tergantung pada status quo macam apa yang ingin dilawannya hingga ke akarnya itu.

Dalam perspektif ini, para nabi adalah orang-orang radikal pada zamannya: Musa vs Firaun, Isa/Yesus vs Pontius Pilatus/Romawi, Muhammad vs Abu Jahal/jahiliyyah. Kaum Marxis adalah orang-orang radikal terhadap kapitalisme. Kaum liberal, dalam pengertian mereka yang memperjuangkan hak dan otonomi individu, adalah radikal terhadap otoritarianisme kolektivis. Kaum demokrat adalah radikal terhadap kekuasaan monarki. Dan tentu saja mereka yang memperjuangkan khilafah adalah radikal terhadap sistem negara-bangsa.

Cuma, bagaimana kalau istilah itu dibawa dalam konteks keagamaan, dan makna etimologisnya (radikal: “yang mengakar”) sulit dikesampingkan? Bisakah atau bolehkah keberagamaan yang dipraktikan seseorang dengan keyakinan yang teguh dan mengakar disebut “radikal” dan dengan demikian yang “moderat” berarti yang keberagamaanya setengah-setengah alias tak benar-benar yakin dan tulus?

Juga dalam soal perasaan: bolehkah perasaan sayangmu yang penuh seluruh terhadap pasanganmu itu disebut cinta yang “radikal”?

Boleh kan, ya?

___________

Moderat

Sesungguhnya orang-orang yang moderat adalah orang-orang yang tidak memakai cara pandang “kita vs mereka” atau “either you are with us or against us” atau “kalau kamu tak setuju denganku, berarti kamu musuhku”.

Barang siapa mendaku moderat tetapi menganggap orang lain yang tak sekubu dengannya dalam satu masalah sebagai musuhnya dalam segala masalah, berarti ia sejatinya tidak moderat.

Ini bukan hadis, tentu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

About Azis Anwar

Click "menu" and then "disclaimer" for further inquiry about this blog and its author.