Kritik Magnis terhadap Marx

Setelah baru saja selesai membaca buku Franz Magnis-Suseno berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Gramedia, Cet. XI, 2017), sedikitnya ada dua poin kritik Magnis terhadap Marx yang bagi saya paling tajam.

Pertama, klaim bahwa materialisme historis (fondasi Marxisme) merupakan penjelasan sejarah yang saintifik, objektif, dan meliputi semua (totalitarian) sebenarnya berdasar pada premis-premis yang, oleh banyak kaum Marxis, diterima secara apriori saja (bahkan menjadi semacam dogma begitu ia dibekukan menjadi “ideologi”, terutama oleh Engles dan kemudian Lenin), sementara ia, sebagai suatu penjelasan sejarah, mestilah diuji secara aposteriori.

Ini satu hal yang membuat materialisme historis belum selesai (dan dengan demikian belum total) karena, sebagai suatu nubuat tentang keruntuhan kapitalisme, bukti kebenarannya—dan tentu juga falsifikasinya (ala Popper)—menunggu di depan, nanti, yakni ketika benar terjadi revolusi proletariat yang berhasil menumbangkan kapitalisme dan mengubah sistem ekonomi global menjadi sosialisme untuk kemudian membentuk masyarakat komunis. Bahkan jika berpegang ketat pada premis bahwa revolusi proletariat itu harus lahir secara genuine dari “kesadaran kelas” kaum proletar sendiri, bukan diinjeksikan oleh elite intelektual atau politisi dengan instrumen partai-diktator (ala Lenin), bukti kebenarannya makin belum jelas. Hal-hal yang dianggap sebagai gejala ke arahnya mungkin bisa dianggap telah ada, namun anggapan itu baru dalam batas interpretasi, belum fakta keras, tentang kondisi ekonomi masyarakat kini yang juga belum tentu secara otomatis-objektif akan menjadi basis material yang memicu revolusi proletar.

Di antara premis yang diterima secara apriori itu ialah bahwa gerak sejarah dideterminasi oleh relasi produksi sementara hal-hal lain di luar itu adalah sekunder belaka. Ini yang disebut dengan “basis menentukan suprastruktur” itu, yakni bahwa posisi seseorang/kelompok dalam relasi produksi (sistem ekonomi) menentukan bentuk ideologi, tata hukum, agama, norma-norma kultural, dst, yang mereka anut. Inilah premis yang mendasari mengapa Marx menyatakan agama adalah candu yang rentan diperalat kaum borjuis guna mendistraksi masyarakat dari kesadaran mereka sebagai manusia yang menurutnya lebih sejati. Ini pula yang mendasari mengapa Manifesto Komunis menyatakan bahwa nanti ketika masyarakat komunis terbentuk, agama akan hilang dengan sendirinya karena ia, sebagai instrumen kaum borjuis untuk meninabobokkan kaum proletar, sudah tak diperlukan lagi seiring hilangnya kelas borjuis (dan dengan demikian tak ada lagi kelas) itu sendiri.

Karena “dogma” basis-suprastruktur inilah maka banyak kaum Marxis (kecuali yang mengikuti Gramsci?) selalu berusaha menjelaskan segala peristiwa melalui determinisme ekonomi, dan hal-hal yang dianggap suprastruktur itu (termasuk di dalamnya agama) tak punya agensi yang substantif ada dalam dirinya sendiri. Marxis yang kaffah dalam mengimani hal ini akan mudah mencurigai ideologi-ideologi (selain Marxisme!), ekspresi budaya, tata hukum, dan agama sebagai cermin hegemoni kaum kapitalis. Magnis dalam kritik terhadap soal ini menyatakan bahwa seharusnya hubungan antara hal-yang-disebut-basis dan hal-yang-disebut-suprastruktur itu bukan hubungan primer-sekunder melainkan setara, timbal balik, saling memengaruhi.

Saya menyetujui kritik Magnis itu dan ingin sedikit menambahinya. Ada yang paradoks dalam paradigma basis-suprastruktur itu: Apa yang menjustifikasi bahwa Marxisme adalah paham yang saintifik-objektif menjelaskan sejarah dan bukan “ideologi” yang merupakan cerminan dari “kelas” Marx sebagai perumus paham itu sendiri? Apa rasionalisasinya bahwa ideologi-ideologi lain merefleksikan hegemoni kaum kapitalis dan hanya paham yang dirumuskan Marx-lah satu-satunya yang mencerminkan kelas proletar yang lalu secara apriori dinyatakan sebagai benar dan objektif? Pertanyaan lain khusus untuk Marxis yang beragama: Tidakkah kamu, iya kamu, ingin meneroka lagi bahwa agama yang kamu peluk itu sesungguhnya bukanlah kebenaran sejati dan hanyalah gejala dari lenguhan karena ketertindasan (“the sigh of the oppressed”) sebagai cerminan kelasmu?

Kritik semacam ini sebenarnya mudah ditampik jika saja kaum Marxis meletakkan Marxisme sebagai ideologi sebagaimana ideologi-ideologi lainnya yang memiliki suatu “imperatif etis” dan karena itu terbuka pada kritik dan bukti baru yang bisa saja menyalahkannya. Namun hal ini meniscayakan hilangnya kecurigaan bahwa ideologi lain hanyalah instrumen hegemoni kaum kapitalis. Ia juga meniscayakan untuk tidak memperlakukan Marxisme sebagai semacam “meta-ideologi” yang mengatasi semua penjelasan terhadap segala peristiwa, yang emoh diturunkan statusnya dari klaim saintifik-objektifnya.

Kedua, sementara Marx begitu detail membugili kapitalisme, tak demikian halnya ketika dia menjelaskan bagaimana cetak-biru masyarakat komunis itu nantinya—ini satu hal yang kemudian diisi oleh Lenin dengan upaya penerjemahan konkret konsep “kediktatoran proletariat” melalui Uni Soviet.

Marx menjelaskan bagaimana rupa masyarakat komunis itu dengan amat sedikit dibanding tulisan-tulisannya dalam menelanjangi kapitalisme. Yang sedikit itu pun cenderung imajinatif, seolah seperti bakal ada “surga di bumi”. Dalam risalah The German Ideology, misalnya, ia menyatakan bahwa dalam masyarakat komunis nanti orang-orang bisa melakukan satu hal hari ini dan melakukan hal lain di hari esok, dan dalam kegiatan hariannya mereka bisa “berburu di pagi hari, memancing di sore hari, merawat ternak di malam hari, dan mengkritik setelah makan malam.” Dalam masyarakat komunis, menurut imajinasi Marx, orang-orang akan super fleksibel untuk berkegiatan apapun karena fiksasi pekerjaan yang menjadi keniscayaan kapitalisme telah hilang. Sistem kerja dan gaji dalam masyarakat komunis, menurut imajinasi Marx dalam kitab Critique of the Gotha Program, ialah “dari setiap orang menurut kemampuannya, untuk setiap orang menurut kebutuhannya” (From each according to his abilty, to each according to his needs). [Di titik ini saya punya pertanyaan-bodoh: jadi, lulusan S3 beranak satu mendapat gaji/upah lebih rendah dari tukang parkir beranak empat?]

Kritik inilah yang agaknya tak banyak ditanggapi banyak Marxis ketika mengkritik kapitalisme. Apalagi di zaman ini, yang sudah berbeda dengan zaman Marx, dengan diskursus politik yang sudah jauh berbeda dari abad 19, dengan peta gerakan buruh yang berbeda juga, dan dengan sistem pembagian kerja abad 21 yang makin kompleks seiring kian canggihnya teknologi, maka upaya untuk memberikan ilustrasi alternatif tentang pembagian dan relasi kerja pun makin tak sederhana.

Apa alternatif konkretnya untuk menciptakan relasi kerja yang tidak seperti kapitalisme yang mengakui kepemilikan privat dan karena itu, menurut Marxisme, secara inheren mengandung eksploitasi manusia oleh manusia (l’exploitation de l’homme par l’homme)? Bukan, bukan dengan nasionalisasi sumber daya alam yang dikuasai perusahaan asing, karena selama relasi kerjanya masih menggunakan sistem pekerja-upahan, masih ada penghisapan nilai-lebih (surplus value) di sana—jadinya “kapitalisme negara”.

Dimulai dari contoh-contoh kecil saja. Misalkan kamu mendapat warisan satu usaha kecil menengah dari orang tuamu yang sudah punya para pekerja tetap, lalu kamu, iya kamu, yang Marxis, bagaimana akan mengatur relasi kerja agar tidak ada penghisapan nilai-lebih di usaha yang kini kamu pimpin itu? Apakah kamu mau melepas kepemilikan privat itu dan membuatnya menjadi milik kolektif untuk semua para pekerja atau komunal milik masyarakat? (Kalau tidak, berarti kamu rentan jatuh mengonfirmasi satu ungkapan sarkas yang berbunyi “feminist until you get married, atheist until your plane starts falling, communist until you get rich!”)

Engles mengklaim bahwa Marxisme adalah “sosialisme saintifik”, satu pernyataan yang ia maksudkan sebagai kritik terhadap tren gerakan-gerakan sosialisme sebelumnya yang menurutnya mengampanyekan “sosialisme utopis”. Dengan masih imajinatifnya gambaran mengenai masyarakat komunis itu, serta belum jelas apakah benar ia mungkin terjadi dalam kenyataan konkret, masyarakat komunis yang dibayangkan Marx akhirnya jatuh pada satu utopia juga.

___________________

P.S. Catatan ini ditulis karena saya ingin menulis guna menuangkan pikiran dan bukan karena disponsori Gramedia. Begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

About Azis Anwar

Click "menu" and then "disclaimer" for further inquiry about this blog and its author.