Perihal Kaidah Penyerapan

Salah satu cara untuk menengarai ketika bingung antara mana kata serapan yang baku dan yang tidak ialah dengan mengidentifikasi mana yang lebih dekat dengan bahasa asalnya. Saya tak tahu persis apakah ini benar sesuai kaidah penyerapan kosakata asing. Walakin, saya sering menggunakan pedoman ini, dan pada kenyataannya ia berlaku di banyak kasus, atau agaknya malah sebagian besar kasus.

“Kaidah” itu berlaku untuk kata-kata seperti praktik (bukan praktek), nasihat (bukan nasehat), apotek (bukan apotik), asas (bukan azas), ekstrem (bukan esktrim), hakikat (bukan hakekat), ijazah (bukan ijasah), izin (bukan ijin), risiko (bukan resiko), sekadar (bukan sekedar), subjek (bukan subyek), zaman (bukan jaman), dan seterusnya.

Seiring dengan seringnya saya belakangan ini menyunting tulisan dan tentu saya harus bolak-balik membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, ada beberapa kata yang mulai saya sadari telah menyimpang dari “kaidah” itu. Sedikit dari sekian contohnya ialah kata yang dalam KBBI ditulis syekh dan khotbah. Kalau ikut bahasa asalnya (Arab), syekh semestinya ditulis syaikh dan khotbah ditulis khutbah.

Mengapa kasus syekh dan khotbah tidak mengikuti kasus nasihat dan hakikat (yaitu dengan kaidah “mendekati bahasa asal”)? Jawaban sementara saya: karena syekh dan khotbah lebih mudah dan/atau lebih lumrah diucapkan lidah orang Indonesia. Jawaban ini agak bisa berterima, tetapi tak memuaskan. Kalau demikian, mengapa bukan sekedar melainkan malah sekadar yang dibakukan? Jika mengikuti bahasa asalnya: sekadar (dari bahasa Arab: qadr). Jika mengikuti yang mudah diucapkan: sekedar. Dalam kasus ini, KBBI memilih sekadar alih-alih sekedar dan memilih syekh untuk kasus syaikh. Di sini kita menemukan dua standar penyerapan.

Ada beberapa kata lagi yang bahkan menyimpang dari dua standar itu. Di antara contohnya ialah kata selawat dan jemaat/jemaah.

Kata selawat tidak sesuai bahasa asalnya (seharusnya salawat, yang dalam bahasa asalnya merupakan bentuk plural dari salat). Kata selawat juga kalah lumrah dan kalah mudah untuk diucapkan dibanding, misalnya, solawat. (Jika khutbah menjadi khotbah, mengapa salawat tak menjadi solawat saja?)

Kata jemaah dan bentuk kata kerjanya, berjemaah, tidak sesuai bahasa asalnya (seharusnya jamaah/jamaat) dan kalah mudah/lumrah diucapkan dibanding kata yang lebih mendekati bahasa asal itu.

Jadi, pertanyaannya: mengapa ditulis selawat dan jemaat?  Sementara ini saya belum menemukan alasan lain kecuali bahwa kata-kata ini masuk dalam kasus anomali atau kekecualian. Lalu, mengapa dikecualikan atau dimasukkan dalam kasus anomali? Tak ada alasan rasionalnya. Jika benar demikian, berarti ada sekian kata dalam KBBI yang dibakukan dengan standar yang arbitrer alias manasuka.

Kalau kita berpijak pada asumsi dasar bahwa kaidah dan tata bahasa itu dibuat sedemikian rupa sehingga yang awalnya arbitrer menjadi punya pola yang konsisten, semestinya kasus semacam dua kata yang terakhir itu dihindari.

Pilihannya ada dua, yaitu memberikan penekanan lebih pada konsistensi berkaidah atau memberikan penekanan lebih pada pemakaian oleh penuturnya.

Janggal tidak apa-apa, asal konsisten. Kata ustaz, misalnya. Kata ini janggal diucapkan tapi konsisten dengan kaidah penyerapan, yaitu huruf “dz” di bahasa Arab (aslinya: ustadz) diserap cukup dengan “z” saja karena pembuat kaidah penyerapan berasumsi bahwa lidah orang Indonesia sukar mengucapkan “dz”. Kalau adzan menjadi azan dan idzn menjadi izin, ustadz mestilah jadi ustaz.

Atau, bisa juga dengan memprioritaskan yang lebih kaprah bagi penuturnya. Misanya, kabar, yang berasal dari kata Arab, khabar. Tidak seperti “dz”, bahasa Indonesia mengenal gugus konsona “kh”. Artinya, khabar mungkin untuk diserap tanpa perubahan. Namun, dalam kasus ini KBBI memilih kabar. Kata kabar lebih jamak dan ringan diucapkan.

Saya secara pribadi lebih suka semuanya konsisten dan setia dengan kaidah dasar. Walakin, saya tak punya kuasa untuk mengubah isi KBBI dan saya tak berpretensi sebagai pakar linguistik bahasa Indonesia di sini. Jadi saya cukup menjadi pencinta bahasa saja, sebagaimana saya juga pencinta kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

About Azis Anwar

Click "menu" and then "disclaimer" for further inquiry about this blog and its author.