Yang Publik, yang Privat

Argumen ‘etis’ bahwa negara tidak boleh campur tangan dalam kehidupan seksual warganya berakar pada liberalisme.

Liberalisme berlandaskan pada premis adanya kebebasan individu yang melekat (dalam liberalisme klasik: melekat secara natural atau inheren) ke tiap individu dan merupakan ranah yang tak boleh dimasuki negara. Terhadap kebebasan individu ini, negara wajib melakukan tiga fungsi (yang harus dihafal setiap advokat Hak Asasi Manusia): to respect, to fulfil, to protect.

Pondasi ideologis semacam itu tentu mengandaikan adanya konstruksi biner mengenai “yang publik” dan “yang privat”. Pada dasarnya, dalam liberalisme, negara hanya mengatur urusan publik. Kalau negara mengagresi ruang privat, yang menjadi ruang ‘otonom’ individu, negara telah melakukan tindakan illiberal.

Pemisahan publik-privat ini adalah salah satu fitur utama liberalisme, juga ‘modernisme’ dalam maknanya yang luas.  Ia merembes ke pelbagai bidang kehidupan di alam modern. Dalam politik-agama: ruang publik harus sekuler (perdebatan di ruang publik harus menggunakan ‘nalar publik’, public reason), dan agama kudu minggir ke ruang privat (argumen teologis tidak boleh dipakai dalam debat publik kecuali setelah diterjemahkan menyesuaikan ‘nalar publik’—mengikuti perspektif Rawlsian). Dalam ekonomi: individu punya hak terhadap properti dan akses terhadap pasar untuk bertransaksi ekonomi, dan negara boleh mengintervensi sebatas untuk menjaga agar mekanisme pasar dapat berjalan (tapi kaum liberal Amerika, yang berada di sisi kiri dalam spektrum politik Amerika, mungkin tak sepakat sepenuhnya dengan ini). Dalam pergaulan sehari-hari: urusan publik-profesional (sebagai pekerja, pejabat, politisi, dll) adalah hal yang terpisah dari kehidupan privat-personal (kehidupan seksual, keluarga, dll).

(Modernisme dikonstruksi dengan dikotomi-dikotomi itu. Selain pemisahan publik-privat dan gereja-negara [separation of church and state], modernisme juga dibangun atas pemisahan kekuasaan [separation of powers] yang berfungsi menjamin terwujudnya salah satu rukun demokrasi: mekanisme checks and balances untuk mencegah otoritarianisme. Demokrasi-liberal mengandung unsur-unsur ini, setidaknya di tataran normatif, karena praktiknya secara faktual tidaklah sesederhana yang diidealkan.)

Persoalannya: bagaimana mendefinisikan yang publik dan yang privat itu dan apakah batasan di antara keduanya itu betul-betul ada? Kritik posmodern berangkat antara lain dari pertanyaan ini. Posmodernisme tidak niscaya menentang pemisahan publik-privat, tapi ia mempertanyakan akan adanya tembok pemisah yang ‘natural’ dan ‘objektif’ di antara keduanya. Posmodernisme  memandang pemisahan publik-privat itu tidak natural, tidak objektif; ia cair, merupakan konstruksi ideologis, bersifat culturally contingent (khususnya terhadap peradaban Barat), dan karena itu sangat boleh untuk dinegosiasikan, direkonstruksi, dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai lokal, atau dilampaui.

Pada kenyataannya, banyak isu polemis yang membuat batas yang publik dan yang privat itu tak mudah dipancangkan dengan tegas. Contoh: apakah aborsi adalah hak privat-individu atau urusan publik mengingat bukan hanya sang ibu yang punya klaim hubungan kekeluargaan terhadap calon-bayi? Bagaimana dengan family planning (keluarga berencana): itu hak privat dalam berkeluarga atau urusan publik demi meminimalisasi dampak negatif pertumbuhan penduduk yang tak terkendali? Juga poligami: itu hak privat individu untuk menikah atau publik berhak khawatir pada kecenderungan perlakuan tidak adil terhadap pasangan? Cipokan di tempat umum: itu hak orang untuk bermesraan atau publik berhak merasa terganggu?

Termasuk isu panas mutakhir, yaitu kasusnya pemimpin para “pembela Islam” itu: ini ranah privat kehidupan seksualnya, yang terpisah sama sekali dari profesinya sebagai imam besar, atau negara berhak mengintervensinya karena melanggar norma susila, moralitas, atau apapun itu yang dinyatakan di UU Pornografi?

Kalau Anda menjawabnya, “itu ranah privat dan negara semestinya tidak mengurusi hal macam itu,” Anda sedang mengadopsi perspektif liberal. Begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

About Azis Anwar

Click "menu" and then "disclaimer" for further inquiry about this blog and its author.