Paradoks Air-Berlian

Ini pertanyaan klasik dalam ekonomi, tapi jawaban terhadapnya relatif mengindikasikan pandangan ekonomi-politik seseorang: Mengapa sebutir berlian lebih mahal dari bergalon-galon air padahal tanpa air manusia mati?

Muasal pertanyaan ini bisa dilacak hingga Mbah Adam Smith dalam kitab The Wealth of Nations saat ia sedang membahas nilai-guna (value in use) yang sama sekali tidak identik dengan nilai-tukar (value in exchange). Ada dua alternatif jawaban besar.

Jawaban pertama, yang menjadi jawaban arus utama dalam ekonomi kontemporer: karena air tersedia melimpah ruah, dan oleh sebab itu maka kegunaan/kepuasan marginal (marginal utility) yang dimilikinya kecil sehingga harganya murah. Di sisi lain, berlian langka, dan karena itu ia mahal. Sekadar misal: kalau Anda hidup di Planet Namex, dan di sana ada banyak gunung berlian tapi langka air, harga keduanya bisa berkebalikan dari harga di Bumi.

Penjelasan ala marginalisme ini umumnya juga dikombinasikan dengan penjelasan teori nilai subjektif. Yang terakhir ini berpandangan bahwa tidak ada nilai objektif yang inheren berada dalam suatu komoditas. Yang memberinya nilai adalah manusia/pembelinya yang dipengaruhi oleh beragam faktor yang membentuk subjektivitasnya dan tingkat kebutuhannya. Semakin suatu barang sangat diinginkan dalam satu kondisi tertentu, harganya naik dalam kondisi itu.

Singkatnya, yang pertama ini kurang lebih menjawab dengan sudut pandang penawaran-permintaan. Penawaran: faktor kelimpahan/kelangkaan (scarcity). Permintaan: faktor keinginan (desire/want) dari konsumen yang subjektif.

Jawaban kedua: berlian mahal karena kerja (labour) yang dibutuhkan untuk mendapatkannya jauh lebih besar dari kerja untuk mendapatkan air. Ini jawaban Mbah Karl Marx dalam kitab Capital jilid 1 juz 1 tentang Komoditas. Istilah teknis untuk penjelasan ini ialah teori nilai-kerja (labour theory of value): nilai suatu barang ditentukan oleh seberapa banyak kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Dalam penjelasan ini, harga suatu komoditas ditentukan oleh ongkos produksinya, terlepas dari keinginan konsumen atau faktor kelangkaan komoditas itu.

Teori nilai-kerja ini adalah pondasi ekonomi Marxis, tapi ada sanad-nya dari Mbah Smith. Ya, Mbah Smith, yang sebagian orang menganggapnya sebagai mbahnya kapitalisme itu, menginspirasi pembentukan pondasi ekonomi Marxis melalui teori nilai-kerja. Yang membedakan, Mbah Marx lalu mengembangkan teori itu untuk menderivasi ide tentang nilai-lebih (surplus value). Ide tentang nilai-lebih ini adalah jantung kritik ekonomi-politik Mbah Marx terhadap kapitalisme; hal mana merobohkan ide tentang nilai-lebih berarti merobohkan pondasi ekonomi Marxis. Di zamannya Mbah Smith hingga Mbah Marx, teori nilai-kerja masih populer, termasuk untuk menjelaskan paradoks air-berlian itu. Tapi sekarang sudah tak lagi menjadi jawaban arus utama dalam ekonomi kontemporer, kecuali agaknya di kalangan kiri.

Membandingkan dua jawaban itu tampak bahwa ekonomi pasar dan ekonomi Marxis berbeda atau berseberangan karena sudah berlainan sejak dalam memberikan penekanan pada aspek-aspek suatu komoditas. Berlian punya beberapa sifat: (1) langka, dan karena itu (2) ongkos produksinya besar, dan pada saat yang sama (3) konsumen menginginkannya bahkan mau membayar mahal. Ekonomi pasar menekankan poin 1 dan 3; ekonomi Marxis pada poin 2.

Dalam tingkat tertentu, kedua paradigma itu juga berbeda dalam memberikan daya tawar dalam relasi produksi-konsumsi. Ekonomi Marxis memberikan daya tawar lebih pada proses produksi. Ekonomi pasar memberikan daya tawar lebih pada konsumsi. Dalam ekonomi Marxis, ongkos produksi menggerakkan harga (cost drives price). Dalam ekonomi pasar, yang terjadi sebaliknya: hargalah yang menggerakkan ongkos produksi (price drives cost). Dalam ekonomi pasar, karena pembeli mau membayar mahal berlianlah yang menyebabkan produsen mau mengeluarkan ongkos produksi besar untuk mendapatkan berlian. Dalam ekonomi pasar, karena konsumen sangat ingin punya rumah di lokasi-lokasi strategis (dekat tempat kerja, misalnya), produsen mau membeli tanah yang mahal di lokasi-lokasi itu untuk kemudian membangun rumah di atasnya.

Hubungan ongkos produksi-konsumsi dalam menentukan harga ini memang tampak seperti hubungan ayam dan telor; mana yang lebih dulu. Ini kasus yang hampir sama dengan hubungan antara keindahanmu dan sayangku padamu: Kamu memang indah sehingga aku menyayangimu, atau aku menyayangimu sehingga kamu tampak indah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

About Azis Anwar

Click "menu" and then "disclaimer" for further inquiry about this blog and its author.