Bola dan Kapitalisme

Salah satu cara untuk memahami perbedaan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis ialah dengan melihat perbedaan sepak bola Eropa dan American football. Sepak bola Eropa dikelola secara kapitalis, sedangkan American football secara sosliasis. (American football di sini bukan menggunakan bola bulat yang ditendang kaki, melainkan bola lonjong coklat yang dibawa pemain pakai pelindung badan dan kepala [istilah Indonesianya apa ya?)

Kapitalisme itu, simpelnya, adalah menyerahkan harga ke pasar. Biarkan hukum supply and demand yang mengatur dengan tangan tak terlihatnya. Hargai kompetisi. Beri reward kepada yang berprestasi. Manjakan konsumen. Jauhkan intervensi pemerintah. “Laissez-faire”. Live and let live.

Sementara sosialisme ialah campur tangan pemerintah terhadap pengaturan harga. Kompetisi harus diregulasi agar tak liar. Jangan ada dominasi dari satu segmen apalagi monopoli. Alat produksi dimiliki kolektif. Ada redistribusi pendapatan kepada yang kurang mampu untuk meminimalisasi ketimpangan.

American football, melalui the National Football League, mengatur batas pengeluaran tiap klub dan batas gaji pemain (salary cap), bahkan ada pajak barang mewah untuk pemain. Liga secara keseluruhan menjadi “alat produksi” yang dimiliki secara kolektif oleh peserta liga dan pendapatan liga dari broadcasting, iklan, dll dibagikan ke tiap klub (revenue sharing). Juga ada “Draft” tahunan untuk rekruitmen pemain (disebut sistem parity): talenta-talenta terbaik alumni college didistribusikan ke klub-klub peringkat terendah tahun sebelumnya untuk membantu meningkatkan performa dan menghindari dominasi klub-klub besar. Dalam istilah Marx: “to each according to his needs.”

Sepak bola Eropa tidak punya semua itu. Bebas, serahkan pada kompetisi pasar. Tim yang terpuruk akan terdegradasi. Tim dari divisi bawah yang menghuni papan atas akan promosi ke divisi atasnya. Pemain-pemain berbakat akan dibeli klub-klub besar, yang biasanya mendominasi liga. Tidak ada batas pengeluaran pembelian pemain, sehingga klub-klub besar bisa mendapatkan pemain mahal. Karena tidak ada salary cap, pemain yang berskill tinggi dapat meraup pendapatan sebanyak-banyaknya yang bahkan bisa melebihi proporsi skillnya. Kompetisinya ketat: siapa main bagus akan maju; siapa jelek akan tersingkir. Juga ada ekspansi: dengan transfer, pemain dapat dengan mudah pindah klub atau liga di negara lain tergantung pada seberapa besar demand terhadapnya.

Hasilnya, karena kompetisinya berjalan dengan hukum rimba, sepak bola Eropa melahirkan pemain-pemain tangguh hasil didikan medan “survival of the fittest”. Yang terjadi kini, pemain-pemain top dunia terkonsentrasi di Eropa. Permainannya ditonton atraktif; liga-liganya terbaik sedunia, dan punya fans internasional dalam jumlah besar.  Pemain terpacu untuk meningkatkan skillnya karena ada reward—semakin langka talentanya, semakin mahal harga jualnya dan gajinya. Self-interest pemain untuk mendulang profit terwadahi.  Bisnis sepakbola secara umum juga tumbuh: pendapatan klub dan gaji pemain naik berkali-kali lipat dibanding satu atau dua dekade lalu. (Di sini kita bisa berandai-andai, bilamana Marx hidup saat ini, apakah analisisnya terhadap kapitalisme masih sama: apakah dalam industri sepakbola ada nilai-lebih [surplus value] dari tenaga kerja buruh [pemain bola] yang dihisap pemilik alat produksi [pemilik klub]?)

Dalam American football, karena ada batas untuk gaji dan pengeluaran klub, motivasi berkompetisi lebih rendah. Sebaik apapun performanya dan segigih apapun pemain meningkatkan skillnya, reward yang dapat diperolehnya terbatas. Dalam American football, kans bagi sebuah klub untuk mendapat giliran juara lebih besar dibanding sepak bola Eropa karena dibantu oleh pasokan pemain berbakat dari sistem parity tadi.

Dari kedua model sistem pengaturan sepak bola itu, mana yang paling banyak diminati penonton internasional? Ialah sepak bola Eropa.

Salah satu prinsip kapitalisme ialah supremasi konsumen, dan sepak bola Eropa mengadopsi itu. Hubungan antara permainan yang disuguhkan sepak bola Eropa dan minat para penonton/fans bersifat saling menguntungkan: Sepak bola Eropa diupayakan semakin atraktif dan kadang kala dramatis untuk menarik penonton, dan di sisi lain jumlah penonton/fans yang menjadi konsumen menentukan seberapa banyak kapital akan disuntikkan. Persis  di sini hukum klasik supply and demand berjalan. Sepak bola Eropa menjadi lahan basah investasi. Apalagi sepak bola mampu melahirkan para fans militan yang menjadi pelanggan tetap.

American football memang dapat meminimalisasi ketimpangan antarpemain atau antarklub, tapi kompetisi tidak ketat. Dalam sepak bola Eropa, klub-klub besar mendominasi; terjadi kesenjangan kelas antara klub papan atas dan papan bawah; dan yang menjadi langganan juara bisanya klub-klub itu juga (jarang ada anomali seperti kasus Leicester City di Premier League tahun lalu); tapi gairah untuk berkompetisi sangat tinggi.

Bayangkan jika pemerintah mengintervensi pasar bebas sepak bola Eropa dengan, misalnya, mengatur batas pengeluaran klub dan gaji pemain, atau mewajibkan ada rolling (misalnya, Ronaldo harus pindah ke Osasuna dan Messi ke Granada) untuk mendongkrak klub papan bawah dan menghalau dominasi klub-klub papan atas, sepak bola Eropa tidak akan seperti yang sekarang.

Dua-duanya punya sisi “positif” dan “negatif”. (Sisi positif-negatif, juga konsep fairness, di sini menjadi relatif, karena klub proletar akan diuntungkan dengan model Amerika, sedangkan klub borjuis cenderung menyukai model Eropa.)

Cuma, bagi Anda yang memuja klub borjuis Eropa dan kebetulan seorang “kiri”, sepak bola Eropa menjadi ujian bagi iman anti-kapitalisme Anda, karena Anda sebagai konsumen turut berkontribusi menyangga kapitalisme sepak bola. Kapitalime bergerak dengan determinasi konsumen.

Anda, baik kiri, tengah, maupun kanan, tentu saja bisa memilih di antara kedua sepak bola itu mana yang disukai. Free to choose. Tapi, fakta bahwa Anda bisa memilih ini sesungguhnya turut dikondisikan oleh kapitalisme. Kalau pemerintah Indonesia mengadopsi kebijakan sosialis-proteksionis dalam bisnis sepak bola dengan, misalnya, melarang penayangan liga-liga Eropa demi menjaga nasionalisme fans bola tanah air (agar mereka lebih mencintai sepak bola nasional daripada dijajah oleh imperialisme kultural sepak bola Eropa), Anda tak lagi punya pilihan. Begitu.

Advertisements

4 thoughts on “Bola dan Kapitalisme

  1. Yang saya yakin selama sumber ideologi yang kita ambil berasal dari manusia. Ketentraman, kesejahteraan, dan pemerataan cuma delusi yang selalu kita cita-citakan, gakan pernah kejadian. Hehe. Ngomong2, isu kiri dan kanan, saya pengen ketawa. 🙂

    Like

  2. Sebagai penonton kedua cabang olahraga tersebut, NFL secara umum justru lebih kompetitif. Tim manapun setiap saat bisa tiba2 jago, resepnya dapet pemain yang nilai draftnya sangat tinggi, dapet pemain superstar yang undervalue (gajinya kecil)…punya waktu beberapa taun sampe si gaji kecil ini kontraknya abis buat bisa jadi juara. Biasanya kalo pemain bintang ini harus perpanjang kontrak, terpaksa dilepas…turun dulu prestasinya sampai ketemu pemain super bargain lagi

    Hampir semua tim 10 tahun terakhir dapet giliran masuk playoff … paling yang udah lama jelek terus cuman Jaguars ama Browns

    Semua itu gak akan bisa di sepakbola….jaman sekarang tim “Sugar daddy” mendominasi. Tim tim ini tidak memikirkan cash flow sama sekali, minus karena gajiin pemain mahal2 biar saja..toh sugar daddy akan injeksi dana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

About Azis Anwar

Click "menu" and then "disclaimer" for further inquiry about this blog and its author.