Argumentasi yang Tak Tepat

Sebuah aturan mengharuskan A untuk melakukan X. Ketika ditanya, “Mengapa kamu tidak melaksanakan X?” Si A menjawab, “Lah, si B saja juga belum melaksanakan X.”

Cara berargumentasi ini tidak tepat. Bahwa si B belum melaksanakannya itu tidak bisa menjadi legitimasi bagi tindakan si A. Si A seolah berargumentasi dengan mengatakan: “karena si B belum melaksanakannya, maka saya pun boleh untuk tidak melaksanakannya”. Argumentasi seperti ini keliru sebab mendasarkan kebenaran klaimnya dari tindakan orang lain.

***

Model pertanyaan di atas juga kadang dijawab si A, “Bukankah kamu dulu juga tidak melaksanakannya?” Pertanyaan balik ini mengasumsikan bahwa karena si penanya dulu pernah tidak melaksanakannya, maka si A pun absah untuk tidak melaksanakannya. Argumentasi seperti ini keliru sebab mendasarkan kebenaran klaimnya pada perbuatan orang lain yang telah lalu.

***

Si A ditanya tentang kebijakan yang dibuatnya, “Mengapa kamu membuat kebijakan seperti itu?” Si A menjawab, “Yah, karena memang biasanya begitu.” Seolah si A hendak mengajukan alasan: “kebijakan ini benar karena memang begitulah sejak dulu”. Argumentasi ini keliru karena kebiasaan tidak bisa menjadi legitimasi bagi kebenaran dari suatu kebijakan.

***

Si A ditanya tentang mengapa dia membenarkan sebuah pernyataan. Si A menjawab, “Karena pernyataan itu berasal dari si X.” Argumentasi ini memang tidak salah total. Tapi ia tetap rawan keliru jika si X itu bukan orang yang punya otoritas di bidangnya. Bahkan, lebih jauh, sekalipun si X punya otoritas, kebenaran argumentasi dari si X masih bisa didiskusikan kembali. Sebab, sebuah argumentasi tidak mutlak bisa dibenarkan hanya dengan mendasarkan pada mulut siapa ia keluar.

***

Poin utama saya dari hal-hal di atas adalah, seperti kata pepatah Arab: unzhur ma qala wala tanzhur man qala (lihat apa yang dikata, bukan siapa yang bicara). Pesan moral dari diktum ini: sebuah kalimat itu benar dilihat dari kelogisan kalimat itu, bukan dari legitimasi atau justifikasi yang berasal dari luar kalimat itu. Sebuah argumentasi itu benar jika argumentasi itu menyentuh langsung reason atau ‘illah yang mendasari munculnya sebuah klaim.

Sebagai misal, kita ambil contoh seperti pertanyaan paling atas. Ketika si Z ditanya, “Mengapa kamu tidak melaksanakan aturan X?” Kemudian Si Z menjawab, “Karena, menurut saya, aturan X itu tidak masuk akal atau tidak adil.” Si Z mengklaim sebuah aturan salah karena aturan itu tidak berkesusaian dengan ‘illah dan kemaslahatan yang mendasari dibuatnya aturan itu. Nah, argumentasi yang seperti itulah yang, menurut saya, sudah logis. Protes dari si Z di atas, dengan demikian, sudah tepat sasaran dan sangat layak untuk diperhatikan.

~ Kotagede, 29/12/2012

Advertisements

One thought on “Argumentasi yang Tak Tepat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

About Azis Anwar

Click "menu" and then "disclaimer" for further inquiry about this blog and its author.